Hening. Aku diam dan hanya menatap
kebawah sambil memegang erat batu-batu ini. Keringatku terus bercucuran,
jantung ku berdegup kencang,dan aku haus. Tapi aku tidak mau berhenti
disini tanpa satu pergerakan apapun. Kulihat Bang Riski yang berada tidak jauh
dari aku dan dia juga sedang berada dalam posisi yang kurang lebih sama seperti
aku, Bertahan di tebing gunung Sibayak ini dengan hanya bermodalkan pegangan
erat pada batu batu yang menempel di tebing ini.
Sebelumnya, kami masih berada di
Puncak Gunung Sibayak ini bersama kelompok kami ditemani oleh 2 orang pengawas.
Kami mendaki puncak Gunung Sibayak ini melalui jalur yang sudah dibuat oleh
pemerintah, jalur yang sudah sangat mudah untuk dilalui. Dimulai dari Desa
Jaranguda, kami berjalan ke atas, ke puncak gunung cukup dengan mengikuti jalan
beraspal yang sudah disediakan oleh pemerintah sehingga kami tidak perlu takut
tersesat, ditambah lagi adanya jalan-jalan setapak yang dibuat oleh masyarakat
setempat ke puncak gunung menjadikan perjalanan kami begitu mudahnya untuk
mencapai puncak Gunung Sibayak ini.